Menyelinap

Dulu aku kira, kehidupanku sudah dituliskan dengan urutan yang pas dan tepat. Misalnya lulus kuliah dengan waktu yang cukup, bekerja di foreign company, life to the fullest, dan happy relationship. Tidak kekurangan bahagia atau harta. Tapi ternyata, semua ini kita tuliskan sendiri.

Mulai dari coretan tak jelas, titik yang berjeda, lalu menyambung menjadi garis. Dari kata sporadik, hingga terkumpul menjadi kalimat yang bisa terbaca. Seperti halnya "bisa hidup bahagia", bisa dimuai dari “hidup” dulu, “bisa” , lalu “bahagia”. Kadang hanya “bisa hidup”,atau “bisa bahagia”, namun belum tentu ketiganya. “Bisa hidup bahagia”.

Sebagai manusia yang terluka, belajar untuk percaya bahwa ada hal yang baik butuh waktu. Dari semua hal yang pahit di dunia ini, kukira 30 tahun cukup membuat sakit tidak ada sisa. 

Sayangnya, rasa sakit bak mata air yang muncul tanpa perlu usaha. Jadi kalau begini, rasa sakit tidak habis, malah akan selalu tersisa ya?


Penulisan takdir juga kukira lebih pada genre slice of life dengan konsep sedih, bahagia dan sukses yang wajar. Sayangnya,  banyak sekali genre dalam hidup. Dari drama, tragedi, horor, misteri, atau komedi. Sayangnya, romansa belum masuk dalam genre ini, masih on progress atau waiting list. Jadi, apapun momentnya, apapun kondisinya, aku harus buat genre romance! Apapun caranya! (rencananya).


Dan perkara cinta, entah dipaksa atau tidak disengaja, ternyata cinta bisa menyelinap ya? Meski duniaku sudah versi paling sibuk, dalam keadaan lapar tak senggang makan, masih bisa penasaran bagaimana kabarmu. 


Atau ketika kita tiba-tiba bermigrasi, hilang, tidak berkabar, namun akhirnya bermigrasi pulang, hadir kembali sebagai cinta yang utuh. Bentuk kasih yang seperti ini disebut apa sih? Eros, storge, ludus, pragma? 


Dari film ke film, buku ke buku, musik ke musik, bahkan cinta ‘kalah’ dan wujud mu lah yang menyelinap. Menaruhmu dalam lirik lagu pilihan, pada kuot buku atau pada scene film romansa yang jarang aku tonton.

Jika cinta seperti ini masih ada saja, bagaimana aku bertahan hidup kedepannya? Denial dalam bertahun tahun itu genre tragedi komedi bukan?


Sejenis protein kah, yg bisa disimpan dalam bentuk expired date? Atau frozen food dalam kulkas? Expired date 10 tahun tuh apa? 


Dalam beberapa momen, ternyata denial tidak membantu. Sebaiknya aku ditinggal lari, atau aku yang lari saja sampai mampus. Sampai hilang arah, sampai hilang jejak, sampai hilang tidak kembali. Intinya sampai hilang. Meski faktanya, kita tidak ingin saling kehilangan. 


Kalau aku meminta pada Tuhan ijinkanlah aku mencintai, sepertinya perlu diperjelas. Ijinkanlah aku mencintai yang banyak. Yang bukan satu saja. Biar.


Padahal pengingat sudah akuh taruh dalam sosial media ku. Seperti lagu 10 cc I’m Not In Love sebagai lagu denial paling cocok. Sebagai lagu penerimaan kalau ternyata jenis cinta ini lebih dari platonik. Lalu aku dilanjut amnesia ringan, dan menjalankan duniaku dengan jadwal paling sibuk. 


Dari latihan lari trailnrun, jalan kaki, ngopi di kafe, baca buku tiap hari, nonton sries, baca webtoon, install dating app 1 minggu lalu uninstall. Lalu tetap saja cinta yang sama menyelinap. Cinta yang hadir tidak sengaja dari tahunan lalu itu. Cinta yang lupa, lalu muncul kembali. Cinta yang disimpan untuk nanti. Sejujurnya, sebuah kata cinta yg tidak jelas seharusnya jelas bahwa tidak ada cinta. Kan?!


Apakah para stoik menyikapi cinta juga seperti ini? Tidak harus diungkapkan dan tidak perlu dimiliki? Apakah aku stoik atau Schopenhauer yang pesimis? 


Sebernya aku lebih suka Carl Jung memandang cinta. Bahwa pernikahan adalah hal suci dan jika lambang cinta adalah menikah, maka cinta adalah suci. Jadi tidak perlu terburu-buru dan menjadi “buzzer” kata cinta yang nyatanya cuma kiasan manis, biar ada obrolan, biar ada alasan kepemilikan, atau manipulasi. 


Oh, karena sedang berbicara cinta, manusia tuh bagaimana bisa saling cinta?  Kenapa cinta yang sampai padaku itu adalah hal yang menyakitkan ya? Kita kasih contoh, ada yang mengaku cinta tapi obsesi. Ada yang tidak mengaku cinta tapi selalu ada untuk mendampingi.


Lalu penanda kedua setelah lagu denial itu, “japan poet” yang bilang "The moon is beautiful isn't it". Sebuah pernyataan cinta tanpa harus bilang cinta. Seperti sebelumnya, cinta adalah rasa. Jika 2 rasa tidak saling terkoneksi berati tidak bisa membangun cinta. Tapi sayangnya, dalam sebuah hidup perlu judul. Jadi, judul kita itu sebaiknya apa? Kalau bisa, cepatlah kau pergi dengan cintamu yg kau pilih. Aku bukan tipe manusia yg bisa angkat kaki. 

  

Anggap saja kita sedang beli kaset. Menikmati turntable gratis di PHR Senayan misalnya. Kita mendengarkan musik yang sama, tapi kau pulang dengan yang lainnya. Dan PHR Senayan akan jadi memori nostalgia bagaimana berakhirnya cinta sepihak yg indah itu. Romantisme kesakitan harus dibuat dramatis! As human grow, pepople comes and go, but memories stay. Setidaknya memori ini berakhir di toko kaset dengan banyak musik yang bisa dinikmati atau untuk mengobati. 





Posting Komentar

0 Komentar