Klinik kuning paling familiar menjadi "mandatory visit "setidaknya 4x dalam setahun. Gara-gara tidak tahu diri, kemana-mana di “gas” saja, dipaksa, asal tidak sepi dan ada teman untuk hahahihi.
Dalam selasar kuning, terdapat 3 baris kursi tunggu isi lima yang menghadap televisi. Memutarkan profil klinik yang berulang-ulang, seperti teori repetisi yang membuat bosan. Akhirnya, keluarkan ponsel pintar dan membuka X sebagai obat penawar.
Timeline juga seperti klinik, sebagian sakit sebagian sedang berusaha sembuh. Sakit dengan kemunculan berita korupsi. Ah! Kasus macam apa ini? Baru kali ini menjadi rakyat serasa dikhianati, disakiti, dan hal kejam lainnya. Uang begitu banyak, bisa-bisanya meluncur bebas pada manusia dengan gaji 4 milyar sebulan.
Lalu, honor gaji sebulan 400 ribu seperti guru, cuma bisa mengelus dada. Sebagai seorang cucu dari guru SD dan TK yang biasa biasa saja, hanya aset motor GL 100 yang sudah tak tahu dimana, cara dunia bekerja ini lumayan menyakitkan.
Ada hal lebih menyakitkan lagi! Ketika membahagiakan orang lain kehilangan diri sendiri, namun ketika berusaha membahagiakan diri sendiri malah kehilang orang lain. Apalagi ya? Oh! Ketika kita memang bukan orangnya. Atau, ketika tidak ada “saling”. Tapi, hal yang disebut sebelumnya cukup biasa saja.
Lalu, contoh yang tidak biasa seperti apa? Entah lah. Dunia bekerja dengan begitu luar biasa. Tuhan melindungiku dengan sangat baik, dan trauma merawatku dengan apik. Tuhan dan trauma saling bertaut. Menjadi topik utama dalam setiap perjalanan. Setidaknya, kalau tidak ada siapa-siapa, ada Tuhan dan trauma yang selalu masuk dalam pikiran. Dengan begitu, aku selalu sibuk. Dengan begitu, aku tahu sedang hidup.
Kembali ke selasar kuning, orang-orang datang bergantian. Pada ruang dokter umum, bidan, atau dokter gigi sekalipun, ada satu kesamaan. Mereka tidak sendiri, bahkan resepsionis,apoteker, dan kasir pun tidak sendiri. Kecuali aku, dan tukang parkir. Karena tukang dagang di depan klinik pun, tidak sendiri. Semua diciptakan berpasangan, atau semua hidup berdampingan. Dan tukang parkir pun kini sudah berdua dengan teman kolaborasi apiknya. Dengan vest orange menyala, dan mereka kolaborasi bekerja.
Dalam selasar ini, ruang tunggu sempit, sembari demam, wajar jika muncul pikiran tidak sehat. Hanya saja, kira-kira, bisa sampai umur berapa untuk tetap kuat datang ke klinik atau rumah sakit membawa diri. Sampai kapan untuk tidak bercerita kecuali pada Tuhan. Sampai kapan berusaha sembuh dari trauma berkepanjangan. Kenapa trauma selalu muncul seperti flu. Tidak pernah hilang, mampir tanpa aba-aba hitungan.
Kira-kira, kapan menjadi manusia yang tidak perlu “sesabar” itu? Lebih baik emosi, marah, atau apapun itu sebutannya. Kapan menjadi manusia yang berani minta tolong? Kapan menjadi manusia yang jujur? Dan kapan menjadi manusia yang berani percaya bahwa tidak semua manusia penghianat.
Resensinya, aku sudah menerima obat. Berisi vitamin, anti biotik, dan obat batuk. Diagnosis dokter adalah ISPA. Menjadi penyakit yang biasa di suasana kota. Dan Aku berusaha untuk sembuh. Dari yang lainnya.
0 Komentar