Nyatanya, meski sudah berusaha menjalani hari dengan wajar, memotong kubis bisa sebahaya itu. Aku lumayan kaget karena selama hidup ini, aku tidak pernah hilang fokus dan membuat jempol terluka yang cukup dalam. Kali ini darah lumayan lancar mengalir seperti sumber mata air baru. Darah segar yang tidak pernah kulihat. Menutup 5 jari tanganku. Menetes di pinggiran kompor dan wastafel dapur. Ingin aku gambarkan dengan gaya magical realisme bagaimana darah membanjiri dua lantai kosanku, tapi sejujurnya, hanya menetes di sepanjang lantai itu cukup membuat aku pucat juga.
Sebagai pertolongan pertama, aku alirkan air pada luka, tapi melihat air bercampur darah malah membuat ngilu. Tanganku kebas. Aku hanya berpikir, kota pinggiran tempat aku tinggal sepertinya tidak ada klinik 24 jam kecuali rumah sakit Hermina. Tapi, apakah luka ini perlu dijahit sampai perlu ke rumah sakit?
Sedikit impulsif, tapi aku lari ke lantai 2 kosan yang sudah sepi, mengambil kunci motor, lalu ke indomaret dengan waktu tempuh 10 menit dengan darah menetes di stang kanan motor. Benar, throttle motor aku basah karena darah. Lalu aku ke kasir dengan tangan basah dan tetap tenang sembari “hai kak, apakah ada kassa, betadine, dan hansplast?”. Sayangnya, indomaret itu bukan pertolongan pertama untuk kecelakaan, tapi untuk kelaparan. Dan seperti ku duga, hanya hansaplast yang tersedia.
Jujur, di wastafel indomaret itu aku cukup lama membersihkan darah dengan meringis. Yang aku sesali, aku sedang malas cuci muka dan bukan darah yang bikin kaget, tapi wajah aku yang kusam, berminyak, acak acakan dengan gaya rambut messy bun ini terlihat di kaca tempat aku membersihkan luka. agh!
Sambil meringis karena perih dan kesal, sejujurnya aku ingin menangis. Seolah mengingatkan bahwa hidup tak pernah sungguh-sungguh sesuai rencana. Sembari mengingat kejadian tangan yang bergetar mencoba membayar plester seharga 19.000 di kasir, yang sebenarnya bukan bergetar karena luka di ibu jari, tapi untuk menahan segala yang pecah di dalam diri.
Dan di tengah membalut plester merek hansaplast, dengan pantulan keheningan dan gambaran manusia kumal didepan kaca, aku sadar bahwa aku gemetar karena menutupi luka yang lebih dalam. Luka karena harus kuat sendirian, luka karena tak tahu harus bersandar ke siapa ketika tubuh dan jiwa sama-sama letih. Luka karena sadar, bahwa harus menunda tangis untuk bertahan.
Sejujurnya aku baru tahu bahwa tangis bisa menjadi kemewahan. Yang bisa ditunda, meski seharusnya bisa hadir karena kata yang menyakitkan, moment yang mengejutkan, atau diri yang sedang tidak kuat untuk hadir. Tapi, banyak orang yang harus menahan dan menyimpannya, dan menunda sampai waktu yang tepat untuk bisa menangis. Bahkan, menangis juga perlu priviledge.
Selain jengkel karena aku harus menyelamatkan diri sendiri di malam hari, menyobek hansaplast dengan gigi dan tangan kiri, mengendarai motor dengan throttle yang basah karena darah, dan baru sadar kalau menangis adalah priviledge, ada satu yang makin jengkel. Kamu tahu? Masakan miso soup tadi sebelum kejadian absurd, harus aku makan disaat wajah pucat dan tak ada hasrat. Kenapa? Karena mubazir jika tidak dimakan sekarang dan jika ditaruh dikulkas, aku perlu energi mengambil lock n lock ukuran 450 ml dan pasti rasanya tidak akan enak lagi.
Setelah makan, aku kira aku akan menangis. Sejujurnya aku ingin menangis, menitikan air mata meski hanya 3 detik, atau tiga tetes, sayangnya aku sudah lelah dengan hari ini.
Mungkin air mata sudah diborong di hari minggu lalu dengan playlist bluebird by sunset roller coaster, dan about you by 1975, hingga stok air mata digantikan dengan darah lewat luka.
mantra hari besok:
Dunia tetap keras, luka tetap perih.
Namun pikiran lebih ringan, dan hati tetap lapang.
15 Oktober 00.31 WIB

0 Komentar