Dan diantara jeda, dalam pengulangan membaca webtoon yang tidak ada habisnya, mendengarkan lagu yang aku anggap sebagai lagu cinta, membaca lirik yang aku anggap sebagai bahasa yang jujur, atau melanjutkan buku Tan Malaka yang aku hilang minat, aku kembali sadar lagi, dan belajar menerima tanpa merasa kehilangan. Sebagai pengingat, sebab tak ada yang benar-benar pernah kumiliki.
Aku pernah bilang bahwa menulis adalah caraku merawat diri. Dan dengan tulisan ini, aku berharap untuk sembuh. Setidaknya sembuh dari hal-hal bodoh, dari hasil cacat logika pikiranku sendiri. Mengenai kebodohan yang sama, yang berulang dalam bentuk yang berbeda, dalam tiap tahun yang selalu muncul dan hilang lagi.
Ironi yang sering tidak aku sadari bahwa, perasaan tak selalu datang dari dalam diri sendiri, bisa saja dari orang didepannya. Misal dari mata dan obrolannya. Tapi, kalau ternyata yang didepan kita adalah pendengar yang tenang bagaimana?
Bahwa, aku bisa saja sedang berkaca pada Danau Walden. Berhadapan dengan seseorang yang tenang. Lalu aku mulai menafsirkan bahagianya adalah bersamaku, kehadirannya sebagai bentuk kerinduan, dan kebaikannya sebagai cinta. Padahal bisa jadi, ia hanya sedang menjadi dirinya sendiri, orang yang tenang, tulus, dan baik, tanpa maksud apa pun.
Berhadapan dengan yang tenang, seperti aku berkaca pada tenangnya air Walden. Lalu, jika aku jatuh cinta, maka pada pantulan itu? Pada cermin yang menciptakan ilusi. Pada diriku sendiri? Bukan pada ia yang seolah memahami kita?
jika ia cukup hadir dengan tenang, lalu tanpa sadar hanya memantulkan, bukankah hal ini sungguh berbahaya? Bukankah aku cukup lari jauh-jauh dan jangan berhadapan dengannya lagi? Bukankah ini adalah sumber dari hal yang tidak bisa membuatku sembuh selama bertahun tahun itu?
Dalam tenangnya danau walden, menenangkan, tapi juga menyesatkan. Hingga aku mulai menjadi Fang Runin atau Altan yang kecanduan opium dan menulis narasi sendiri, seolah ia menyimpan perasaan yang sama, seolah matanya bicara dalam bahasa yang hanya kita mengerti. Seolah kita sama sama tahu. Padahal ia hanya diam. Tak ada pesan di sana, selain ketenangan yang lahir dari dirinya sendiri.
Tapi hati yang lelah, hidup yang rapuh, dan logika yang cacat, menghasilkan makna yang aku inginkan saja. Aku ingin percaya bahwa ada seseorang yang akhirnya mampu menampung segala riuh di dalam kepala. Dan karena itu, aku menciptakan makna dari hal yang sebenarnya kosong. Yang sebenarnya ilusi dari pantulan sendiri. Bodoh bukan?
Dan ketika akhirnya hati yang telah pulih, hidup yang kuat kembali, dan logika yang lebih sehat, atau dalam keadaan perut kenyang, realita hadir lebih jelas. Rasanya jengkel pada diri sendiri karena merasa dikhianati oleh sesuatu yang tak pernah dijanjikan.
Betapa bodohnya hati manusia: tak sengaja menciptakan harapan, lalu marah pada kenyataan. Tapi bukankah hidup bekerja demikian? Bahwa tidak semua yang tenang adalah tempat untuk bersandar, dan tidak semua yang baik berarti ingin tinggal.
Beberapa orang hanya lewat, kembali, selalu ada, sebagai pengingat untuk tetap hidup. Sebagai rasa sakit penanda aku hanya manusia, atau menunjukkan betapa hidup ini masih mampu mengguncang kita, dan betapa aku belum sepenuhnya mati rasa.
Pada akhirnya, kita harus duduk bersama tanpa menuduh, tanpa jengkel, tanpa marah, dan tanpa berkaca. Tidak ada yang salah pada tenangnya Danau Walden, ia hanya menjadi dirinya sendiri. Yang salah adalah aku mulai menginginkan sesuatu darinya, lalu menulis kisah di kepala.
Aku tidak perlu menghapus kenangan yang cukup untuk mengisi memori hape sampai penuh, jika semua didokumentasikan. Hanya perlu berhenti menafsirkan ulang setiap lagu yang ku dengar. Sebab setiap kali aku mencoba mencari makna baru, aku kembali menjadi tawanan 4 tahun lalu.
Tidak ada yang lebih baik, tapi membiarkan Danau Walden tetap menjadi dirinya, yang tenang, dan aku hadir seperti Henry David Thoreau yang membangun pondokan di samping danau itu, menjadi satu babak kecil cara merawat diri. Untuk selalu hadir, untuk selalu ada, untuk menerima, dan untuk sembuh.
Dengan begini, aku akan sembuh pelan-pelan, seperti pagi yang datang setelah malam yang terlalu panjang. Dan dari ketenangan itu, aku tak perlu sakit lagi. Tanpa pantulan, tanpa prasangka, tanpa ilusi. Dan aku percaya disitulah cinta yang sebenarnya mulai lahir: bukan kepada seseorang, melainkan kepada diri yang akhirnya berhenti membohongi dirinya sendiri.
0 Komentar