Namun, malam kali ini hening. Hanya layar TV stasiun SCTV memutarkan sinetron kesayangan Ibu. Dalam layar itu, hanya adegan marah-marah karena perselingkuhan aktor utama ketahun istri sahnya. Sedangkan dari dapur, suara penggorengan lumayan “klentang kentung” sebagai suara pendukung yang menandakan simbah sedang memasak. Lalu, disudut lain dapur, 2 adik yang bikin onar itu dalam proses berpindah babak, dari rIbut jadi gelut. Ah dunia sIbuk sekali pikirku, kecuali Ibu.
Paginya, aku sarapan di pintu antara ruang tengah dan dapur. Seperti biasa, Ibuku mengomel mitos anak gadis jangan duduk di pintu. Aku menjawab bahwa sudah tidak ada waktu Bu, buru -buru. Oke, ibu mengalah, tidak ada jawaban. Mungkin dia pikir tidak akan ketemu anaknya lagi dalam beberapa bulan atau karena dia sembari menyiapkan teh manis hangat untuk dibawa ke kereta dan bekal nasi sayur serta ayam goreng kesukaanku. Ia memasukan dalam kresek hitam berukuran sedang. Kresek bekas belanjaan tempo hari yang selalu ia kumpulkan.
"Hati-hati, Nak. Jangan ada yang ketinggalan. Kalau ada apa-apa, telepon Ibu.” Ungkap Ibu sembari memberikan koper warna cokelat yang kita beli bersama di Pasar Wonokriyo. Aku jadi ingat, Ibu membanggakanku kepada penjual koper bahwa anaknya akan pergi ke luar kota untuk bersekolah lebih tinggi. Lebih tinggi dari dirinya.
Setibanya di kereta, aku menuju kursi 12D Ekonomi 3 persis di samping kaca. Sembari menunggu jadwal berangkat 5 menit lagi, aku berpikir kenapa ya, kita begitu mirip. Aku dan Ibu. Perpisahan perlu ada air mata adalah hal wajar, tapi kenapa perlu ditahan? Air mata bukan tanda kelemahan, tapi tanda sebagai manusia. Merasa sedih ditinggalkan atau sedih meninggalkan itu wajar. Tapi kami hanya saling diam.
Sembari melihat pegunungan menjulang jauh dan sawah yang baru ditanami, kereta Kutojaya mulai beroperasi. Pak satpam meniupkan peluit, masinis menjawab dengan klakson kereta. Klakson? Entahlah yang pasti “tut, tut, tut”. Kini, Aku menuju barat untuk kuliah. Untuk pertama kalinya, dengan kereta ekonomi seharga sembilan belas rIbu lima ratu rupiah.
Butuh 7 jam perjalanan untuk sampai kampusku. Ya, garis bawah kampusku! Meski 1 jam berlalu dengan menahan tangis yang dianggap tak perlu. Yang akhirnya juga menetes juga bersamaan ingus yang keluar lebih deras daripada air mata. Tapi aku berpikir bagaimana Ibuku. Apakah dia sedih, apakah dia gundah, apakah dia kembali mengomel kedua adikku yang rIbut tak tau waktu. Atau lanjutkan sinetron kesukaan. Apalagi tokoh utama sudah ketahuan selingkuh sama istri sahnya. Aku yakin cerita di sinetron itu sedang klimaksnya.
2 jam berlalu, tapi aku masih grogi bagaimana nanti aku bisa survive dalam perguruan tinggi negeri. Aku hanya berbekal doa dan kepercayaan Ibu. Ngobrolin bekal, aku jadi ingat Ibu membawakan teh manis hangat. Sembari membuka bingkisan kresek hitam, aku melihat teh manis panas di botol bekas air mineral bertuliskan Aqua 600 ml dengan pemandangan gunung Salaknya. Aku sedikit lega dan tertawa. Sungguh, meskipun ada botol minum, tipikal Ibu yang selalu ke sawah membawa teh hangat dengan bekas air mineral tidak hilang. Dan aku yakin, Ibu akan baik-baik saja, begitupun aku. Bisa baik-baik saja.
4 jam berlalu, aku makan bekal dari Ibu dengan kotak bekal warna hijau bertuliskan Lion Star. Mumpung kereta jarak jauh ini berhenti di Stasiun Cipeundeuy. Aku sudah tak sabar ingin menggeliat dan meluruskan badan karena kursi kereta dIbuat ala table manner alias seperti makan dengan sendok dan pisau dan duduk tegak 90 derajat. Bekal sudah habis, kereta mulai berjalan menuju barat, aku tertidur kekenyangan.
Dalam tidur tenang aku teringat, Ibu tidak lambat, hanya menahan senyum tipis saat menaruh bajuku ke koper. Baju seragam SMA untuk ospek, baju yang ia setrika. Bukan menangis atau sedih yang aku pikir. Ternyata ia senyum bahwa dirinya sudah mengantarkan cintanya pada cita-citanya. Setelah itu, terbangun karena bau Pop Mie harga 10 rIbu rasa soto ayam begitu “nyegrak”.
Bau Pop Mie seharga 10 rIbu yang nyegrak tapi kelihatannya enak, membuatku sadar dari tidur pendek. Lalu, lamunan mulai membayangi pikiranku. Sembari melihat kaca jendela dengan pegunungan yang hijau. Apakah Ibu adalah gunung? Apakah Ibu adalah pohon? Apakah Ibu adalah sawah? Apakah Ibu juga Pop Mie? Seakan menemaniku tanpa ada jeda, memberi energi untuk aku sampai menjadi calon mahasiswa. 6 jam berlalu dan aku sudah sampai di stasiun pemberhentian terakhirku.
7 jam sejak kejadian kesal (tapi tidak terlalu ) ketika menunggang Bentor, kini aku sudah sampai calon kampusku. Lalu, menuju Aula Balai Santika untuk daftar ulang sebagai tanda sahnya menjadi seorang mahasiswa. Masih mesra-mesranya dengan hape, aku memfoto KTM ku, lalu mengenakan jas almamater biru navy, dan memfoto lingkungan kampus. Juga para calon dokter yang lewat di depanku dengan jas lab mereka. Bahkan ada mahasiswa luar negeri dengan gerombolannya. Aku merasa, mungkin ini yang Ibu maksud semoga kamu menjadi “orang” suatu saat nanti.
Aku menuju kosanku untuk makan dan bebersih sembari mencari tempat fotokopi terdekat. Aku mau kirim fotokopi registrasi ulang, dan juga print foto-foto yang sudah aku ambil, khususnya aku sebagai mahasiswa baru. Tentu saja fotokopi KTM (Kartu Mahasiswa) ke Ibuku.
Dalam suratku:
“Bu, ini foto jas almamater dan KTM kalau jadi mahasiswa di sini. Makasih atas doa dan dukungannya. Kecuali omelan omelan Ibu yang sakit di telinga! wkwkwkw. Aku kirimkan foto dan tanda registrasi ulang juga. Aku sudah resmi jadi mahasiswa nih bu. Aku kirim pakai #JNE. Nanti tolong kirim lagi pakai #JNE makanan kering biar aku hemat jajan. Biasa, kentang mustofa sama orek tempe ya. haha”
#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita
0 Komentar