Mengantarkan Cintanya pada Cita-Citanya

Pada suatu malam, gerakan tangan Ibu lebih lambat dari biasanya. Ia menata baju ke dalam koper. Tangan yang selama ini cekatan itu tak biasanya lebih tenang tanpa ada rasa grusak grusuk dan bumbu omelan kepadaku. Justru, malah 2 adik laki-lakiku berumur 10 tahun dan 11 tahun yang tersungkur karena menendang koper tanpa sengaja atau malah tanpa peduli. Ah, aku sudah bersiap mendengarkan kultum dengan sarkasme seperti biasa yang mungkin sudah kita (aku dan kedua adikku) hafal luar kepala.

Namun, malam kali ini hening. Hanya layar TV stasiun SCTV memutarkan sinetron kesayangan Ibu. Dalam layar itu, hanya adegan marah-marah karena perselingkuhan aktor utama ketahun istri sahnya. Sedangkan dari dapur, suara penggorengan lumayan “klentang kentung” sebagai suara pendukung yang menandakan simbah sedang memasak. Lalu,  disudut lain dapur, 2 adik yang bikin onar itu  dalam proses berpindah babak, dari rIbut jadi gelut. Ah dunia sIbuk sekali pikirku, kecuali Ibu.


Paginya, aku sarapan di pintu antara ruang tengah dan dapur. Seperti biasa, Ibuku mengomel mitos anak gadis jangan duduk di pintu. Aku menjawab bahwa sudah tidak ada waktu Bu, buru -buru. Oke, ibu mengalah, tidak ada jawaban. Mungkin dia pikir tidak akan ketemu anaknya lagi dalam beberapa bulan atau karena dia  sembari menyiapkan teh manis hangat untuk dibawa ke kereta dan bekal nasi sayur serta ayam goreng kesukaanku. Ia memasukan dalam kresek hitam berukuran sedang. Kresek bekas belanjaan tempo hari yang selalu ia kumpulkan. 


"Hati-hati, Nak. Jangan ada yang ketinggalan. Kalau ada apa-apa, telepon Ibu.” Ungkap Ibu sembari memberikan koper warna cokelat yang kita beli bersama di Pasar Wonokriyo. Aku jadi ingat, Ibu membanggakanku kepada penjual koper bahwa anaknya akan pergi ke luar kota untuk bersekolah lebih tinggi. Lebih tinggi dari dirinya. 


Seperti biasa hari-hariku, dua anak kecil laki-laki itu masih rIbut dengan mainannya. Sedangkan Ibuku tersenyum tipis tanpa ada omelan, dan simbah mendekap kedua adikku agar mereka tidak rIbut dan diam. Aku salim ke Ibu dan simbah mencium tangan, dan kedua adikku pun terpaksa salim mencium tanganku. Aku berpamitan dan aku melenggang. Menuju ojek yang menunggu di depan rumah untuk menuju ke stasiun pemberangkatan.

Sebenarnya, jarak 5 km dari rumah ke stasiun bisa ditempuh dengan 15 menit saja. Tapi, di momen krusial yang sebaiknya agak sedih ini, karena perihal meninggalkan, eh malah jadi momen kesal. Ibuku yang suka ngomel itu memang kadang kurang mau mendengarkan. Ia bilang sudah menyiapkan semuanya, sampai ojek sudah ia pesan juga. Tapi siapa sangka, ojek motor yang minimal adalah motor Supra 125 yang kencang melewati turunan dan perbukitan desaku, berubah menjadi Bentor. Kalian tahu Bentor? Becak Montor. Ya Montor! Di desa ku bukan Becak Motor tapi Becak Montor. Agh!

15 Menit menjadi 30 menit. Dengan doa, mantra, dan apapun itu aku sebut ya Tuhan sepanjang jalan, agar jangan sampai ketinggalan kereta. Karena bayangkan, sudah menahan tangis, sudah merasa berpisah, tapi balik lagi karena tertinggal kereta dan harus menunggu jadwal kereta di esok harinya. Lalu kembali ke rumah, lalu, mendengarkan omelan Ibu, lalu, lalu…aduh!

Terimakasih Tuhan 30 menit rasa 30 jam ini sudah terlewati. Bapak Bentor alias tetangga jarak 5 rumah juga menenangkan dengan obrolan yang tidak basa basi, tapi memang penasaran. Seperti kuliah dimana, berapa jam dari stasiun ke kampus, berapa sih uang yang dibayarkan untuk sekolah. Dan aku bisa bangga bahwa, aku tidak perlu membayar, aku dapat beasiswa pak!

Setibanya di kereta, aku menuju kursi 12D Ekonomi 3 persis di samping kaca. Sembari menunggu jadwal berangkat 5 menit lagi, aku berpikir kenapa ya, kita begitu mirip. Aku dan Ibu. Perpisahan perlu ada air mata adalah hal wajar, tapi kenapa perlu ditahan? Air mata bukan tanda kelemahan, tapi tanda sebagai manusia. Merasa sedih ditinggalkan atau sedih meninggalkan itu wajar. Tapi kami hanya saling diam. 


Sembari melihat pegunungan menjulang jauh dan sawah yang baru ditanami, kereta Kutojaya mulai beroperasi. Pak satpam meniupkan peluit, masinis menjawab dengan klakson kereta. Klakson? Entahlah yang pasti “tut, tut, tut”. Kini, Aku menuju barat untuk kuliah. Untuk pertama kalinya, dengan kereta ekonomi seharga sembilan belas rIbu lima ratu rupiah.


Butuh 7 jam perjalanan untuk sampai kampusku. Ya, garis bawah kampusku! Meski 1 jam berlalu dengan menahan tangis yang dianggap tak perlu. Yang akhirnya juga menetes juga bersamaan ingus yang keluar lebih deras daripada air mata. Tapi aku berpikir bagaimana Ibuku. Apakah dia sedih, apakah dia gundah, apakah dia kembali mengomel kedua adikku yang rIbut tak tau waktu. Atau lanjutkan sinetron kesukaan. Apalagi tokoh utama sudah ketahuan selingkuh sama istri sahnya. Aku yakin  cerita di sinetron itu sedang klimaksnya.


2 jam berlalu, tapi aku masih grogi bagaimana nanti aku bisa survive dalam perguruan tinggi negeri. Aku hanya berbekal doa dan kepercayaan Ibu. Ngobrolin bekal, aku jadi ingat Ibu membawakan teh manis hangat. Sembari membuka bingkisan kresek hitam, aku melihat teh manis panas di botol bekas air mineral bertuliskan Aqua 600 ml dengan pemandangan gunung Salaknya. Aku  sedikit lega dan tertawa. Sungguh, meskipun ada botol minum, tipikal Ibu yang selalu ke sawah membawa teh hangat dengan bekas air mineral tidak hilang. Dan aku yakin, Ibu akan baik-baik saja, begitupun aku. Bisa baik-baik saja.


4 jam berlalu, aku makan bekal dari Ibu dengan kotak bekal warna hijau bertuliskan Lion Star. Mumpung kereta jarak jauh ini berhenti di Stasiun Cipeundeuy. Aku sudah tak sabar ingin menggeliat dan meluruskan badan karena kursi kereta dIbuat ala table manner alias seperti makan dengan sendok dan pisau dan duduk tegak 90 derajat. Bekal sudah habis, kereta mulai berjalan menuju barat, aku tertidur kekenyangan. 


Dalam tidur tenang aku teringat, Ibu tidak lambat, hanya menahan senyum tipis saat menaruh bajuku ke koper. Baju seragam SMA untuk ospek, baju yang ia setrika. Bukan menangis atau sedih yang aku pikir. Ternyata ia senyum bahwa dirinya sudah mengantarkan cintanya pada cita-citanya. Setelah itu, terbangun karena bau Pop Mie harga 10 rIbu rasa soto ayam begitu “nyegrak”.


Bau Pop Mie seharga 10 rIbu yang nyegrak tapi kelihatannya enak, membuatku sadar dari tidur pendek. Lalu, lamunan mulai membayangi pikiranku. Sembari melihat kaca jendela dengan pegunungan yang hijau. Apakah Ibu adalah gunung? Apakah Ibu adalah pohon? Apakah Ibu adalah sawah? Apakah Ibu juga Pop Mie? Seakan menemaniku tanpa ada jeda, memberi energi untuk aku sampai menjadi calon mahasiswa. 6 jam berlalu dan aku sudah sampai di stasiun pemberhentian terakhirku. 


7 jam sejak kejadian kesal (tapi tidak terlalu ) ketika menunggang Bentor, kini aku sudah sampai calon kampusku. Lalu, menuju Aula Balai Santika untuk daftar ulang sebagai tanda sahnya menjadi seorang mahasiswa. Masih mesra-mesranya dengan hape, aku memfoto KTM ku, lalu  mengenakan jas almamater biru navy, dan memfoto lingkungan kampus.  Juga para calon dokter yang lewat di depanku dengan jas lab mereka. Bahkan ada mahasiswa luar negeri dengan gerombolannya. Aku merasa, mungkin ini yang Ibu maksud semoga kamu menjadi “orang” suatu saat nanti.


Aku menuju kosanku untuk makan dan bebersih sembari mencari tempat fotokopi terdekat. Aku mau kirim fotokopi registrasi ulang, dan juga print foto-foto yang sudah aku ambil, khususnya aku sebagai mahasiswa baru. Tentu saja fotokopi KTM (Kartu Mahasiswa) ke Ibuku. 


Dalam suratku:

“Bu, ini foto jas almamater dan KTM kalau jadi mahasiswa di sini. Makasih atas doa dan dukungannya. Kecuali omelan omelan Ibu yang sakit di telinga! wkwkwkw. Aku kirimkan foto dan tanda registrasi ulang juga. Aku sudah resmi jadi mahasiswa nih bu. Aku kirim pakai #JNE. Nanti tolong kirim lagi pakai #JNE makanan kering biar aku hemat jajan. Biasa, kentang mustofa sama orek tempe ya. haha” 


#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama  #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita






Posting Komentar

0 Komentar