Manusia Miskin Kehendak

Sejak sadar, sudah menolak semua bentuk penghambaan, termasuk terhadap nilai-nilai yang dianggap “suci". Namun, sayang sekali, kehendak bebas tidak bisa ditentukan sebelum punya uang dan KTP di kehidupan ini. Sebuah ironi untuk seorang bebas, yang tidak ingin ada simbol identitas, namun malah menjadi pelakunya.

Lahir dari lingkungan dengan kebodohan kolektif, berpikir kritis menjadi mitos mistis yang sedikit menakutkan dan tidak elok. Jadi, berpikir perlu, namun seperlunya. Tidak boleh lebih, tidak boleh lebih sadar.

Aku melihat manusia menjarah kenyamanan, buka kebebasan. Mendefinisikan nya sebagai hidup. Menjalani, mematuhi, dan bukan kehendak diri. Mungkin sebut saja, tunduk. Tunduk pada norma katanya, dengan selimut agama, menghormati budaya.

Aku muak pada moral yang dibuat untuk melemahkan. Pada kepatuhan yang disamarkan sebagai kebijaksanaan.

Kalaupun kebebasan bukan hadiah melainkan luka, aku tidak ingin disembuhkan. Aku ingin berdiri dalam keasingan, dalam sunyi, dalam hidup yang tidak butuh pengakuan. "Aku melihat banyak manusia hidup, tetapi tak satu pun yang hidup karena dirinya sendiri".

Mereka sibuk, tapi tidak sadar. Mereka bergerak, tapi tanpa arah. Mereka patuh pada suara di luar, karena suara di dalam telah mereka matikan sejak lama. Mereka menyebut itu kedewasaan, aku menyebutnya kekosongan yang diberi jadwal.

Lalu mitos mistis dan bersuara, "Bagaimana cara hidup dengan benar?" Meski akhirnya ia yang menjawab sendiri, bahwa hidup tidak untuk dijalani dengan benar, hidup untuk dijalani dengan sadar dan berani. Dalam lamunan yang berisik, riuh kerumunan pikiran terdiam "bukan saja kemiskinan, rasa takut juga termasuk warisan". Untungnya, aku bukan ahli waris potensial.

Manusia yang miskin kehendak adalah mereka yang menyerahkan hidupnya pada rumus.
Agar tidak perlu berpikir. Agar tidak perlu memilih. Agar bisa mati tanpa merasa bersalah. Bersalah pada siapa? Tuhan? Ibumu? Dirimu? ketakutan mu sendiri? Ini awal lahir inferiorritas. Dan perlulah kau membaca Adler dalam bukunya seni memahami hidup.


sebuah tulisan sporadik, 1 Juli 2025.



Posting Komentar

0 Komentar