Mata ini bukan saksi.
Tapi pelaku bisu. Yang mampu dipahami oleh tatapanmu. Yang menyimpan lapisan lapisan kata yang tidak bisa kau baca. Masih pada kisah yang sama, tentang perasaan yang tidak selesai.
Raga ini belum milik siapa siapa. Antara menjaga atau penakut, tipis sekali batasnya. Tapi, mungkin kamu berhak. Sebenarnya, ini kode keras penyerahan diri. Menerima komando dalam bentuk apapun.
Namun, jika komandomu penjelasan, bukan aku menolak. Tapi nyaliku ciut. Itu bukan karena sombong, tapi karena tak ada satu bahasa pun yang cukup adil. Tidak adil untuk perasaan yang tidak selesai, untuk perasaan yang kembali berulang. Berulang jatuh cinta, dan berulang putus harapan.
Wajar, jika semua ini tidak sederhana. Berantakan, dan lumayan...menyakitkan. Tapi jangan paksa untuk pulih. Tidak semua luka ingin disembuhkan. Ada yang ingin diingat, agar kita tahu bahwa bisa saja kita pernah saling jatuh cinta. Dan aku pernah sungguh-sungguh..., masih sungguh sungguh... menyukaimu.
0 Komentar